Ditanya Soal Sikap Indonesia Ditengah Amerika-China Yang Makin Memanas, Ini Jawaban Menhan Prabowo


BACA JUGA:



Netizentalk.id - Tensi antara Amerika Serikat (AS) dan China kian memanas di berbagai lini. Salah satunya adalah di kawasan Laut China Selatan (LCS). Beberapa waktu belakangan, militer dari kedua negara unjuk gigi di kawasan strategis tersebut.

Lalu, bagaimana sikap Indonesia jika perang benar-benar terjadi antara AS dan China? Dalam sebuah webinar, kemarin, Juru Bicara Menteri Pertahanan RI Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto Djojohadikusumo, yaitu Dahnil Anzar Simanjuntak, memberikan pernyataan terkait sikap Indonesia.

"Kita kembali kepada UUD. Tentu kita tidak akan terlibat dalam konflik tersebut," kata Dahnil.

Menuru dia, Indonesia tidak akan menjadi proxy manapun. Sebab, Indonesai tidak memiliki pakta pertahanan di manapun, dengan siapapun.

"Jadi kita bebas aktif terkait dengan itu. Kalau kemudian hubungan ekonomi, strategis, dan sebagainya dengan siapapun kita melakukan hal yang serupa. Pada prinsipnya kita tidak mau jadi proxy mereka-mereka yang sedang berkonflik," ujar Dahnil.

Menurut eks Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah ini, publik sering tidak memahami sikap Prabowo. Ia mencontohkan saat kapal China masuk ke perairan Natuna Utara. Ketika itu, Prabowo menjawab kalau Indonesia mengedepankan diplomasi lantaran bersahabat dengan China. Hal tersebut justru menuai kritikan dari politisi hingga netizen yang mahatahu. Prabowo dituding tidak berani dan berbagai tudingan lain.

"Ini yang sering saya sebutkan publik mengalami blessing of unknowing begitu, sedangkan kami misalnya yang di dalam tahu persis bagaimana harus bersikap itu menderita suffering of knowing menderita karena ketertahuan makanya kita simpan," kata Dahnil.

"Dan Pak Prabowo dimaki oleh banyak netizen maha tahu dan juga politisi juga mengobarkan kalimat heroik yang sesungguhnya kosong begitu tetapi terkesan kemudian ada provokasi di publik," lanjutnya.

Lebih lanjut, mantan juru bicara Prabowo-Sandi dalam Pilpres 2019 itu mengingatkan Indonesia tidak boleh masuk pada jebakan proxy. Sebab, jika itu terjadi, maka kawasan akan menjadi battle ground alias kawasan pertempuran. Ia mencontohkanya banyak negara super power jarang melakukan peperangan di negara sendiri, melainkan di negara lain. Sebagai contoh peperangan yang terjadi di Suriah bertahun-tahun lamanya.

"Saya mau katakan kita tidak boleh jadi proxy. Sikap Indonesia tentu adalah menginisiasi perdamaian apalagi kemudian dalam sejarah ini momentum cvid itu sudah dilakukan membangun solidaritas sehingga tidak muncul peperangan yang sesungguhnya. Itu yang pertama. Yang jelas kita tidak mau jadi proxy negara manapun," ujar Dahnil.

Kedua, lanjut dia, diplomasi pertahanan terus dilakukan Prabowo. Menurut Dahnil, Prabowo tidak hanya berbicara dan berdiskusi membangun diplomasi antarnegara kawasan melainkan juga terhadap AS, China, bahkan Rusia. Ia pun bilang, dalam konteks diplomasi pertahanan, yang dibangun bukan balance of power, tetapi collective security system.

"Dalam perspektif Pak Prabowo hari ini yang harus dilakukan ketika berkomunikasi dengan negara kawasan bagaimana membangun collective security sistem. Jadi kita membangun solidaritas di satu sisi, di sisi lain kita memastikan pertahanan negara-negara itu kuat," kata Dahnil.

"Walaupun kita paham juga negara kawasan punya keterkaitan dengan yang sedang berkonflik, tapi kita juga mengajak jangan sampai kawasan kita jadi battle ground sehingga yang dibangun collective security system. Pak Prabowo bicara dengan menhan Malaysia, beberapa hari ke depan akan bicara dengan banyak menhan dalam rangka tadi membangun collective security system. Yang dibangun atmosfernya adalah solidaritas," lanjutnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel